Pixar, setelah sebelumnya selalu membuat karya orisinil kecuali Toy Story 2 di tahun 1999, kali ini sepertinya mereka tidak kuat juga menahan hasrat untuk ikutan membuat sekuel seperti yang tengah melanda Hollywood pada umumnya belakangan ini. Padahal karya mereka yang non-sekuel sudah mendapat perhatian, dicintai anak dan disayang kritikus. Namun godaan keuntungan akhirnya mengalahkan mereka, Toy Story 3 pun muncul di tahun 2010 sebagai raja box office sekaligus menjadi penutup seri tentang mainan ini.
Lantas apa yang membuat mereka, khususnya John Lasetter bersikeras melanjutkan salah satu karya mereka berjudul Cars yang oleh kritikus dijatuhi rating paling rendah itu?
Padahal Cars yang pertama, box office-nya pun buruk. Apakah ini langkah untuk memperbaiki nasib? Ah, mungkin hanya Tuhan dan Pixar yang tau.
Cars 2 kini lebih menitikberatkan kepada tokoh mobil rongsokan bergigi tongos bernama Mater, sebenarnya dialah bintang utama film Cars 2 ini. Tentang keterlibatannya “tanpa sengaja”lebih jauh mengenai dunia mafia, konspirasi tingkat tinggi dan intrik intelejen. Itu terjadi karena McQueen kali ini sedang mengikuti kejuaraan tingkat dunia lomba balap mobil, layaknya turnament balap Grand Prix atau Formula 1, McQueen melanglang buana ke berbagai negara. Mulai dari Jepang, Italia hingga Inggris dan bertemu dengan Ratu Inggris.
Seperti film spy a la James Bond namun bernuansa Spy Kids () bercampur Speed Racer (2008), bahkan Lasetter sampai lupa fokus balapan diawal kisahnya!
Terasa berat? Bagi orang dewasa, tidak juga. Buat keponakan anda? Harus ada edukasi lebih lanjut dari para orang tua yang menemani anak-anak meraka saat menonton film ini, itu yang lebih penting mengingat filmnya yang sedikit berbau propaganda. Merunut pada kisah-kisah karya Pixar sebelumnya, mungkin terlihat normal. Rata-rata mereka membuat film yang sebenarnya bertema dewasa, tonton kembali Up (2009), WALL-E (2008), hingga Finding Nemo (2003). Maka mungkin anda mengerti apa yang saya maksud. Baca selebihnya »




